BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Absorsi
hara mineral oleh akar tanaman terbagi
dalam tiga fase. Pertama adalah fase difusi, dimana hara mineral bergerak
menuju permukaan sel akar. Fase yang melibat kedua adalah pertukaran unsurhara
oleh /melalui membran sel, suatu proses yang melibatkan permeabilitas suatu
membran . sedangkan fase ketiga yaitu akumulasi, merupakan fase aktif dimana
unsur hara ditimbun didaam vakuola.
Melalui
proses difusi berbagai komponen lautan yanah termasuk ion dan molekul bergerak menuju
permukaan luar akar yang jumlahya ditentukan oleh banyaknya sifat membran
protoplasma.
Permeabilitas
adalah suatu sifat atau kemampuan dari suatu membran untuk dapat dilewati oleh
zat. Suatu membran dapat bersifat impermeabel atau permeabel terhadap suatu
zat. Suatu membran dapat bersifat impermeabel terhadap zat tertentu, tetapi
impermeabel terhadap zat yang lain. Membran yang demikian adalah disebut
membran semipermeabel atau differential permeabel.
Protoplasma
sel adalah contoh membran yang bersifat semipermebell. Membran tersebut dapat dilewati
atau permeabel terhadap air tetapi tidak dapat dilewati oleh solute terrutama
yang bermolekul besar seperti senyawa gula, asam amino dan kadang-kadang
elektrolit.
Sifat
semipermeabel dari membran protoplasma tidaklah sama untuk sel yang satu dengan
sel yang lainnya. Hal ini tergabtung dari susunan kimia dan fisika dari membran
tersebut. Untuk sel yang sama dapat juga berbeda sifat semi permeabelnya,
mlainkan tergantung pada : 1). Umur sel tersebut dan 2). Kondisi lingkungan.
B.
TUJUAN
Percobaan
ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lingkungan terhadap permeabilitas
sel-sel umbi bit merah (Beta
Vulgaris).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Membran
plasma merupakan batas kehidupan, batas yang memisahkan sel hidup dari
sekelilingnya yang mati. Berdasarkan dari komposisi kimia membran dan
pemeabilitasnya terhadap solut maka dapat disimpulkan bahwa membran sel terdiri
atas lipid dan protein. Tiga macam lipida polar yang utama adalah fosfolipida,
glukolipida dan sedikit sulfolipida. Pada lipida polar, asam lemak yang
hidrofobik berorientasi ke bagian dalam membran. Variasi antara panjang dan
tingkat ketidakjenuhan (jumlah ikatan rangkap) dari rantai asam lemak
berpengaruh terhadap titik cair. Membran sel terdiri atas dua lapis molekul fosfolipid.
Bagian ekor dengan asam lemak yang bersifat hidrofobik (non polar), kedua lapis
molekul tersebut saling berorientasi kedalam, sedangkan bagian kepala bersifat
hidrofilik (polar), mengarah ke lingkungan yang berair. (Anonimous,
2008). Pada membran terdapat lapisan ganda dan molekul-molekul posfolipid yang
letaknya teratur sedemikian rupa sehingga ujung karbon yang hidropobik
terbungkus sedemikian rupa di dalam sebuah lapisan amorf dalam senyawa lipid.
(Prawiranata, 1981).
Membran
plasma memiliki permeabilitas selektif, yakni membran ini memungkinkan beberapa
substansi dapat melintasinya dengannya lebih mudah dari pada substansi yang
lainnya. Kemampuan sel untuk membedakan pertukaran kimiawinya ini dengan
lingkungannya merupakan hal yang mendasar bagi kehidupan, dan membran
plasma inilah yang membuat keselektifan ini bisa terjadi. (Campbell, dkk,
2002). Adanya sifat hidrofobik di bagian tengah lapisan lipid membran plasma
menyebabkan membran tersebut tidak mudah ditembus oleh molekul polar, sehingga membran
sel mencegah keluarnya komponen-komponen dalam sel yang larut dalam air. Namun,
sel juga memerlukan bahan-bahan nutrisi dan membuang limbahnya ke luar sel.
Untuk memenuhi kebutuhan ini, sel harus mengembangkan suatu sistem/mekanisme
khusus untuk transpor melintasi membran sel. (Subowo, 1995).
Tujuan fraksionasi sel
ialah untuk memisahkan
sel menjadi bagian bagian,memisahkan organel-organel utama
sehingga fungsinya masing-masing
dapat dipelajari. Ada beberapa perbedaan besar antara karakter
permeabilitas pada tanaman yang
berbeda tetapi mempunyai
prinsip umum yang
sama. Salah satu
faktanya adalah komposisi relatif
dari daerah lipid
dan area penjaringan
terhadap permeabilitas yang berbeda dari tiap tanaman. Pada Chara,
permeabilitas diatur oleh solubilitas
lipid pada penyerapan
larutan. Sedangkan pada
Beggiataa, ukuran merupakan
penentu paling utama. Pada tumbuhan tingkat tinggi yang memiliki sifat
permeabilitas yang sama dengan Chara, solubilitas lipid merupakan faktor
dominan penyerapan walaupun perbedaan
kuantitatif dapat diperhitungkan pada
angka penyerapan. (Kimball, 2000).
Beberapa teori-teori klasik tentang
permeabilitas mempunyai kesulitan dalam menjelaskan gejala-gejala
yang teramati. Seperti
peleburan zat terlarut
pada membran oleh pelarut. Semua perrcobaan permeabilitas membran
melibatkan sistem yang tidak seimbang yang berubah sepanjang lintasan tidak
baik apabila beberapa molekul yang tidak dapat menemdus lubang batas itu.
Bermuatan pada membran akan terjadi potensial, untuk potensial ini dinamakan
potensial dominan. Dalam hal ini
konsentrasi keseimbangan ion
dari dua belah
sisi membran berbeda.
Proses tercapainya keseimbangan dari berbagai keadaan tidak seimbang
merupakan contoh termodinamika larutan balik yang terjadi pada sistem biologi.
Membran mempunyai dua fungsi yaitu memberikan kerangka luar dari proses
kehidupan dan pemisahan sitoplasma menjadi
bahang. Membran memisahkan protoplasma menjadi bagian-bagian tetapi pemisahan itu selektif.
(Lovelles, 1991).
Membran bukanlah lembaran molekul
statis yang terikat kuat di tempatnya. Membran ditahan bersama terutama oleh
interaksi hidrofobik, yang jauh lebih lemah dari ikatan kovalen. Sebgain besar
lipid dan sebagian protein dapat berpindah secara acak dalam bidang membrannya.
Akan tetapi, jarang terjadi suatu molekul bertukar tempat secara melintang
melintasi membran, yang beralih dari satu lapisan fosfolipidke lapisan yang
lainnya. Untuk melakukan hal seperti itu, bagian hidrofilik molekul tersebut
harus melewati inti hidrofobik membranya. (Campbell, dkk, 2002).
Suatu membran tetap berwujud fluida
begitu suhu turun, hingga akhirnya pada beberapa suhu kritis, fosfolipid
mengendap dalam suatu susunan yang rapat dan membrannya membeku, tak ubahnya
seperti minyak babi yang membentuk kerak lemak ketika lemaknya mendingin. Suhu
beku membran tergantung pada komposisi lipidnya. Membran tetap berwujud fluida
pada suhu yang lebih rendah jika membran itu
mengandung banyak fosfolipid
dengan ekor hidrokarbon
tak jenuh. Karena adanya kekusutan di tempat ikatan
gandanya, hidrokarbon tak jenuh tidak tersusun serapat hidrokarbon. (Campbell,
dkk, 2002).
Membran haruslah bersifat fluida
agar dapat bekerja dengan baik, membran itu biasanya sekental minyak salad.
Apabila membran membeku, permeabilitasnya berubah, dan protein enzimatik di
dalamnya mungkin menjadi inaktif. Suatu sel dapat mengubah
komposisi lipid membrannya
dalam tingkatan tertentu
sebagai penyesuaian terhadap suhu yang berubah. Misalnya, dalam banyak tumbuhan
yang dapat bertahan pada kondisi yang sangat
dingin, persentase fosfolipid tak
jenuh meningkat dalam musim
gugur, suatu adaptasi
yang menghalangi pembekuan membran selama musim dingin.
(Campbell, dkk, 2002).
Terdapat dua
populasi utama protein membran. Protein integral umumnya merupakan protein
transmembran, dengan daerah
hidrofobik yang seluruhnya membentang sepanjang
interior hidrofobik membran
tersebut. Daerah hidrofobik protein integral terdiri atas
satau atau lebih rentangan asam amino nonpolar. Protein periferal sama
sekali tidak tertanam
dalam bilayer lipid,
protein ini merupakan anggota yang terikat secrara
longgar pada permukaan membran, sering juga pada bagian integral yang dibiarkan
terpapar. (Campbell, dkk, 2002).
Membran sangat
beragam, tapi osmosis
terjadi tanpa menghiraukan bagaimana fungsi membran,
sepanjang pergerakan pergerakan linarut lebih dibatasi dibandingkan dengan
pergerakan air. Membran bisa berupa satu lapis
bahan yanglebih mampu melarutkan
pelarut daripada partikel
linarut, sehingga melewatkan lebih banyak molekul pelarut
daripada partikel linarut. Selapis udara
diantara dua larutan air merupakan pembatas yang menahan sama sekalim
perpindahan linarut yang tidak menguap, yang ketiga berupa saringan (tapis) dengan
sejumlah lubang berukuran tertentu sehingga molekul air dapat melaluinya, tapi
partikel linarut yang lebih besar tidak. (Salisbury dan Ross, 1995).
Pergerakan air yang cepat melintasi
antar permukaan ke dalam larutan akan menciptakan tegangan
dalam air yang
tertinggal di pori,
dan akan menarik
air bersamanya dalam bentuk aliran massa. Mekanisme membran ini
menggambarkan kerumitan alam . (Salisbury dan Ross, 1995). Ada beberapa
perbedaan besar antara karakter permeabilitas pada tanaman yang berbeda tetapi
mempunyai prinsip umum yang sama. Salah satu faktanya adalah komposisi relatif
dari daerah lipid dan area penjaringan terhadap permeabilitas yang berbeda dari
tiap tanaman. Pada Chara, permeabilitas diatur oleh solubilitas lipid pada
penyerapan larutan. Sedangkan pada Beggiataa, ukuran merupakan penentu paling
utama. Pada tumbuhan tingkat tinggi yang
memiliki sifat permeabilitas
yang sama dengan
Chara, solubilitas lipid merupakan faktor
dominan penyerapan walaupun
perbedaan kuantitatif dapat diperhitungkan pada angka penyerapan.
(Kimball, 2000).
Model membran uap merupakan contoh
membran semipermeabel yang sejati, padahal semua membran pada tumbuhan harus
dapat melewatkan linarut tertentu saja. Membran seperti itu dikatakan bersifat
permeabel diferensial, tidak lagi disebut semi permeabel sejati. Meskipun
membran hidup bersifat permeabel terhadap pelarut maupun linarut, tapi umumnya
jauh lebih permeabel terhadap pelarut. Permeabilitas membran terhadap
linarut membuat keruwetan
lagi pada model
osmosis, mempengaruhi laju pergeseran titik keseimbangan secara bertahap
(ditentukan oleh konsentrasi
linarut dan tekanan)
saat potensial osmotik
di kedua sisi
membran berubah, sebagai akibat dari lalu lalangnya partikel linarut.
(Salisbury dan Ross, 1995).
Jaringan dewasa
mengandung sebuah lapisan
tipis protoplasma yang mengelilingi vakuola inti yang terletak
di dinding sel. Dinding sel yang mempunyai banyak pori merupakan suatu proporsi
penting dari sebuah struktur sel yang tidak hanya berupa
sebuah penghalang dari
larutan yang akan
masuk. Batasan ini merupakan jalur untuk keluar masuknya
larutan ke dalam sel dan berupa dua lapisan membran. Membran
ini tipis untuk
dilihat dan secara
mikroskopis berbeda dari protoplasma. Membran ini dapat dikenali
dengan mudah karena komponen selektif permeabelnya. (Bonner, 1961).
BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A.
WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
Pelaksanaan praktikum ini
dilaksanakan Indralaya pada tanggal 8 november 2010 pada pukul 03.00 WIB sampai
dengan selesai, di laboratorium Fisiologi Tumbuhan Jurusan Bididaya Pertanian
Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya.
B. ALAT DAN BAHAN
Alat
:
- 1
buah gelas piala 2000 ml
- 5
buah gelas piala 500 ml
- 1
buah alat pemtong
-
tabung reaksi
Bahan
:
-
Umbi bit merah
C. CARA KERJA
A. pengaruh pemanasan
Sisipkan
5 potong umbi bit merah dengan ukuran 0,3 x 1 x 2,5 (cm), tempatkan kedalam
gelas piala setelah dicuci dengan air yang mengalr selama 5 menit untuk
menghilangkan pigmen betaccyanin dari sel-sel yang rusak. Selanjutnya didihkan
air suling 1000 ml dalam gelas 2000 piala ml. Siapkan 4 gelas piala dan diisi
dengan air yang mendidih tadi sebanyak 250 ml. Lalu tambahkan air dingin
dimasing-masing gelas piala hingga dicapai pada masing-masing gelas piala 70,
60, 50, dan 40 (oC). Rendam potongan bit merah dalam masing-masing
gelas selama 1 menit, kemudian ambil dengan pinset dan masukan dalam tabung
reaksi yang berisi 10 ml air suling. Buat pula kontrol dengan tanpa perlakuan
pemanasan. Setelh 30 menit angkat potongan-potongan umbi bit merah tadi.
B. Pengaruh pendinginan
Siapkan
1 potongsn bit berukuran 0,3 x 1 x 2,5 (cm). Kemudian cuci dengan air mengalir
selam a 5 menit. Lalu masukan kedalam potongan umbi itu kedalam freezer selama
30 menit, ambil dengan pinset dan masukan kedalam tabung reaksi yang berisi 10
ml air suking, setelah 1 jam diangkat.
C. Pengaruh pelarutan organik
Siapkan
1 potongsn bit berukuran 0,3 x 1 x 2,5 (cm). Kemudian cuci dengan air mengalir
selama 5 menit. Lalu masukan kedalam potongan umbi itu tabung reaksi yang
berisi 10 ml metl alkohol 30 %, Diamkan selama 30 menit, sesudah itu potongan
bit diangkat dari tabung reaksi.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
1.
Pengaruh Pelarutan Organik
|
||
Warna
|
Ukuran
|
Deskriptif
|
Merah maron
|
0,2 cm x 0,7
cm x 2,4 cm
|
Pada umbi
terjadi perubahan ukuran atau bisa dibilang umbi mengecil, pipih dan tipis.
Pada awalnya terdapat gelembung- gelembung udara pada permukaan umbi,
kemudian pada akhir pengamatan gelembung-gelembung tersebut menghilang.
Larutan metal alcohol berubah menjadi kemerahan, dan pigmen betacyanin pada
umbi berkurang dan larutan agak pekat.
|
2.
Pengaruh Pendinginan
|
||
Warna
|
Ukuran
|
Deskriptif
|
Merah maron
|
0,3 cm x 1 cm
x 2,5 cm
|
Air menjadi
keruh dan berwarna merah muda, pada potongan ukuran tetap, potongan menjaid
kaku dank eras. Volume air tetap tidak terdapat gelembung seperti perlakuan
pelarutan organik dan warna tetap.
|
B. PEMBAHASAN
Suatu membran
sel eukariotik tersusun atas protein dan lipida. Membran bukanlah lembaran
molekul statis yang terikat kuat di tempatnya. Membran ditahan bersama terutama
oleh interaksi hidrofobik, yang jauh lebih lemah dari ikatan kovalen. Sebgain
besar lipid dan sebagian protein dapat berpindah secara acak dalam bidang membrannya.
Akan tetapi, jarang terjadi suatu molekul bertukar tempat secara melintang
melintasi membran, yang beralih dari satu lapisan fosfolipid ke lapisan yang
lainnya.
Untuk
melakukan hal seperti itu, bagian hidrofilik molekul tersebut harus melewati
inti hidrofobik membranya. Membran haruslah bersifat fluida agar dapat bekerja
dengan baik, membran itu biasanya sekental minyak salad. Apabila membran
membeku, permeabilitasnya berubah, dan protein enzimatik di dalamnya mungkin
menjadi inaktif. (Campbell, dkk, 2002).
Dari pengamatan yang telah dilakukan praktikum ditujukan untuk mengetahui
pengaruh lingkungan terhadap permeabilitas sel-sel umbi bit merah (Beta
vulgaris). Pada percobaan pertama yang dilakukan yaitu pengaruh pendinginan
dimana didapati bahwa bit yang telah didiamkan dalam freezer dan air suling
maka yang terjadi adalah pada gelas piala air suling berubah menjadi agak
keruh, dan berwarna merah muda,serta volume air pada gelas tetap dan tidak
terdapat gelembung-gelembung seperti pada perlakuan pelarutan organic. Pada
potongan ukuran tetap, kaku dan keras, warna kemerahan pada potongan umbi tetap
(merah maron).
Pada pengamatan yang kedua, yaitu pengaruh pelarutan organic. Pada umbi
terjadi perubahan ukuran atau bisa dibilang umbi mengecil, pipih dan tipis
menjadi 0,2 cm x 0,7 cm dan 2,4 cm. Pada awalnya terdapat gelembung-gelembung
udara pada permukaan umbi, pada akhir
pengamatan gelembung-gelembung tersebut menghilang. Larutan metal alcohol
berubah man enjadi kemerahan, pigmen betacyanin pada umbi berkurang dan larutan
agak pekat.
Dari kedua pengamatan yang dilakukan, terjadi beberapa peristiwa seperti
munculnya gelembung-gelembung udara pada permukaan potongan umbi pada pengaruh
pelarutan organic. Hal itu terjadi karena pada sel-sel umbi bit merah (Beta
vulgaris) masih terjadi respirasi sehingga udara uang keluar dari sel tersebut
berubah gelembung-gelembung udara. Warna merah yang terdapat pada sel uumbi bit
merah merupakan pigmen yang disebut dengan betacyanin.
IBRAHIM WAHID
AKTIVIS KAMMI UNSRI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar