LAPORAN
PRATIKUM ORGANISME TANAH
PENGENALAN
ALA-ALAT LABORATORIUM
IBRAHIM WAHD
05101007120
C
ASISTEN
: 1. DESTARIUS SAPUTRA
2. DESINTHA
VERONIKA TARIGAN
3. GUSTI ADITYA
ANDIKA
4. KARTIKA
5. DESFREDO FERYADI
6. JUNINDAH Z SIRAIT
PROGRAM
STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
INDRALAYA
INDRALAYA
2011
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam dunia kimia, kita tidak akan
terlepas dari hal-hal yang berkaitan dengan zat-zat yang ada di dalamnya, yaitu
zat kimia, dimana zat tersebut mengandung tingkat keracunan tertentu serta
memiliki berbagai macam kegunaan. Dari kondisi seperti itu, maka perlulah
adanya pembelajaran untuk mendapatkan pengetahuan dan kemampuan untuk itu. Dan
untuk mendapatkan pengetahuan serta kemampuan tersebut perlu adanya kegiatan
seperti praktikum untuk mengidentifikasi apakah zat itu beracun atau tidak,
berguna atau tidak, dan sebagainya.
Seperti yang diketahui, sebuah praktikum itu tentunya harus
menggunakan alat-alat laboratorium guna mendukung jalannya kegiatan praktikum
tersebut. Dimana tentu saja praktikan tidak dapat secara langsung menggunakan
alat-alat tersebut tanpa mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang cukup untuk
itu. Sebab alat-alat tersebut memiliki prosedur-prosedur dalam penggunaannya.
Maka dari itu, pengenalan alat-alat laboratorium oleh
praktikan dirasa penting agar sebuah praktikum dapat berjalan sebagaimana
mestinya. Namun tidak hanya dikenal begitu saja, praktikanpun seyogyanya mesti
pula mengetahui fungsi dari masing-masing alat-alat tersebut.
B.
Tujuan
Tujuan
dari pengenalan alat laboratorium ini adalah agar mahasiswa mengenal dan
mengetahui fungsi dari tiap-tiap alat laboratorium
II. TINJAUAN PUSTAKA
Seperti yang telah dijelaskan, bahwa
teori pengenalan alat-alat laboratorium bertujuan untuk membuat praktikan
mengetahui fungsi atau kegunaan alat-alat laboratorium, oleh karena itu, fungsi
daripada tiap-tiap alat akan dijelaskan dengan tujuan agar praktikan dapat
memahami secara jelas kegunaan alat-alat laboratorium yang akan dipakai. Pada
dasarnya setiap alat memiliki nama yang menunjukkan kegunaan alat tersebut,
prinsip kerja atau proses yang berlangsung ketika alat digunakan. Beberapa
kegunaan alat dapat dikenali berdasarkan namanya. Penamaan alat-alat yang
berfungsi mengukur biasanya diakhiri dengan kata meter seperti thermometer,
hygrometer, spektrofotometer, dll. Alat-alat pengukur yang disertai dengan
informasi tertulis, biasanya diberi tambahan “graph” seperti thermograph,
barograph (Moningka, 2008).
Dari uraian tersebut, tersirat bahwa nama pada setiap alat
menggambarkan mengenai kegunaan alat dan atau menggambarkan prinsip kerja pada
alat yang bersangkutan. Dalam penggunaannya ada alat-alat yang bersifat umum
dan ada pula yang khusus. Peralatan umum biasanya digunakan untuk suatu
kegiatan reparasi, sedangkan peralatan khusus lebih banyak digunakan untuk
suatu pengukuran atau penentuan (Moningka, 2008).
Penggunaan beberapa alat gelas dengan tepat penting untuk
diketahui agar pekerjaan tersebut dapat berjalan dengan baik. Kesalahan dalam
penggunaan alat-alat ini dapat mempengaruhi hasil yang akan diperoleh. Oleh
karena itu harus diberikan pelatihan tentang penggunaan alat-alat tersebut.
Penggunaan alat-alat gelas tersebut haruslah sesuai dengan
fungsinya agar pekerjaan tersebut dapat berjalan dengan baik dan tepat. Apabila
terjadi suatu kesalahan atau kekeliruan dalam penggunaannya akan mempengaruhi
hasil yang diperoleh. Ada beberapa macam alat gelas yang dipakai di
laboratorium, antara lain: gelas piala (beker gelas), erlenmeyer, gelas ukur,
botol, pipet, corong, tabung reaksi, gelas objek dan gelas penutup, cawan petri
dan kamar hitung.
Terdapat dua kelompok alat-alat ukur yang digunakan pada
analisa kuantitatif, yaitu: Alat-alat yang teliti (kuantitatif) dan alat-alat
yang tidak teliti (kualitatif). Untuk
alat-alat yang teliti (kuantitatif) terdiri dari : buret, labu ukur, pipet.
Sedangkan untuk alat-alat yang tidak teliti (kualitatif) terdiri dari gelas ukur,
erlenmeyer, dan lainnya. Dalam prakteknya baik analisa maupun sintesa, sesorang
yang mempelajari atau menekuni bidang kimia pasti akan selalu dihadapkan pada
hal-hal yang berhubungan dengan alat-alat dan bahan kimia.
Pada umumnya laboratorium itu mempunyai fungsi sebagai
sarana atau tempat untuk mengadakan kegiatan-kegiatan pengujian, pengamatan,
pengkajian, pengukuran, dan pengembangan terhadap gejala-gejala, perilaku,
sifat-sifat dan penerapan atau penggunaan unsur-unsur seperti alat, komponen
dan sistem elektrikan (Ramli, 2002). Karena pentingnya pengenalan alat ini maka
setiap praktikan diwajibkan mengetahui dan memahami cara kerja dan fungsi dari
alat-alat yang ada di laboratorium.
Selain untuk menghindari kecelakaan dan bahaya, dengan
memahami cara kerja dan fungsi dari masing-masing alat, praktikan dapat
melaksanakan praktikum dengan sempurna, kebersihan alat yang digunakan dan
ketelitian praktikan dalam perhitungan sangat mempengaruhi keberhasilan dalam
suatu praktikum, dengan ketelitian dan ketepatan penggunaan alat maka kesalahan
dalam praktikum dapat diminimalisir (Riadi, 1990). Maka, dari penjelasan yang
telah diuraikan diatas, dalam pelaksanaannya diharapkan kita dapat melakukan
percobaan dengan baik, dimana selain memperkenalkan alat dan fungsinya kita
juga harus mengetahui cara kerja dan sistematika penggunaan alat-alat tersebut
secara tepat dan akurat, karena dengan mengetahui sistematika atau
langkah-langkah penggunaan alat akan membuat praktikan tahu bagaimana mengatasi
kesalahan-kesalahan yang dapat terjadi pada alat saat kita melakukan percobaan
dilaboratorium (Mardani, 2007).
III.
PELAKSANAAN PRATIKUM
A.
Waktu dan Tempat
Praktikum ini
dilaksanakan di laboratorium Fisika, Jurusan Ilmu Tanah pada pukul 13.00 WIB,
dan di Laboratorium Fitopatologi Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman pada pukul
14.00 WIB.
B.
Cara
Kerja
Pertama-tama
diperkenalkan alat-alatnya di Laboratorium Fisika Jurusan Tanah, Kemudian
dilanjutkan di Laboratorium Fitopatologi Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman.
IV. HASIL DAN
PEMBAHASAN
1.
Mikroskop Steril
Mikroskop steril berfungsi melihat objek yang membutuhkan
tidak terlalu besar. Di laboratorium Mikrobiologi, mikroskop stereo biasanya
digunakan untuk mengamati secara detail bentuk koloni dan jamur. Mikroskop
stereo ini juga digunakan untuk melihat benda-benda yang berukuran relatif agak
besar. Mikroskop stereo ini punya perbesaran 7 hingga 30 kali. Benda yang
diamati dengan mikroskop ini juga akan terlihat secara tiga dimensi. Beberapa
perbedaan dengan mikroskop cahaya adalah sebagai berikut :
a.
Ketajaman lensa mikroskop stereo jauh lebih tinggi dibandingkan dengan
mikroskop cahaya sehingga kita dapat melihat bentuk tiga dimensi benda
yang diamati.
mikroskop cahaya sehingga kita dapat melihat bentuk tiga dimensi benda
yang diamati.
b.
Sumber cahaya berasal dari atas sehingga
objek yang tebal dapat diamati
2. Autoklaf
Autoklaf adalah alat pemanas tertutup yang
digunakan untuk mensterilisasi
suatu benda menggunakan uap bersuhu dan bertekanan tinggi (1210C, 15
lbs) selama kurang lebih 15 menit. Penurunan tekanan pada autoklaf tidak
dimaksudkan untuk membunuh mikroorganisme, melainkan meningkatkan suhu dalam
autoklaf. Suhu yang tinggi inilah yang akan membunuh microorganisme. Autoklaf
terutama ditujukan untuk membunuh endospora,
yaitu sel resisten yang diproduksi oleh bakteri, sel ini tahan terhadap pemanasan,
kekeringan, dan antibiotik. Pada spesies yang sama, endospora dapat bertahan
pada kondisi lingkungan yang dapat membunuh sel vegetatif bakteri tersebut.
Endospora dapat dibunuh pada suhu 100 °C, yang merupakan titik didih air
pada tekanan atmosfer normal. Pada suhu 121 °C, endospora dapat dibunuh
dalam waktu 4-5 menit, dimana sel vegetatif bakteri dapat dibunuh hanya dalam
waktu 6-30 detik pada suhu 65 °C.Perhitungan waktu sterilisasi autoklaf
dimulai ketika suhu di dalam autoklaf mencapai 121 °C. Jika objek yang
disterilisasi cukup tebal atau banyak, transfer panas pada bagian dalam
autoklaf akan melambat, sehingga terjadi perpanjangan waktu pemanasan total
untuk memastikan bahwa semua objek bersuhu 121 °C untuk waktu 10-15 menit.
3. Inkubator
Incubator
adalah alat pengontrol temperatur, kelembaban, dan kondisi lainnya yang
memungkinkan untuk pertumbuhan kultur mikrobiologi. Inkubator yang paling
sederhana dapat berupa kotak isolasi dengan pemanas yang dapat dikontrol,
biasanya dengan suhu antara 60-65 oC (140-150 oF), ada
pula yang dapat mencapai suhu lebih dari itu namun tidak lebih dari 100 oC.
Kemampuan inkubator lainnya adalah dapat digunakan untuk penyimpanan pada
temperatur rendah (biasanya digantikan dengan refrigerator) atau dapat pula
sebagai kontrol kelembaban atau tingkat CO2. Sebagian besar
inkubator memiliki timer. Kelemahan inkubator adalah pada saat penggunaan
kelembaban karena seringkali terkontaminasi oleh fungi. Pencucian ulang bagian
dalam inkubator dengan alkohol, zefiran, tembaga sulfat, dan deterjen dapat
mengkontrol kontaminasi hanya beberapa saat saja. Fumigasi dengan formalin,
walaupun efektif, namun meninggalkan bekas formaldehid yang sulit dihilangkan
dan dapat diabsorbsi oleh media dalam cawan petri.
4. Colony
Counter
Alat ini
berguna untuk mempermudah perhitungan koloni yang tumbuh setelah diinkubasi di
dalam cawan karena adanya kaca pembesar. Selain itu alat tersebut dilengkapi
dengan skala/ kuadran yang sangat berguna untuk pengamatan pertumbuhan koloni
sangat banyak. Jumlah koloni pada cawan Petri dapat ditandai dan dihitung
otomatis yang dapat di-reset.
5. Mikro
pipet
Mikropipet
adalah alat untuk memindahkan cairan yang bervolume cukup kecil, biasanya
kurang dari 1000 µl. Banyak pilihan kapasitas dalam mikropipet, misalnya
mikropipet yang dapat diatur volume pengambilannya (adjustable volume pipette)
antara 1µl sampai 20 µl, atau mikropipet yang tidak bisa diatur volumenya,
hanya tersedia satu pilihan volume (fixed volume pipette) misalnya mikropipet 5
µl. dalam penggunaannya, mukropipet memerlukan tip.
6. Laminar
Flow
Laminar
Flow (LF) berfungsi sebagai alat yang berguna untuk bekerja secara aseptis
karena laminar mempunyai pola pengaturan dan penyaring aliran udara sehingga menjadi steril dan aplikasi
sinar uv beberapa jam sebelum dipakai. Prinsip penaseptisan suatu ruangan
berdasarkan aliran udara keluar dengan kontaminasi udara dapat diminimalkan.
7. Centrifuge
Centrifuge
berfungsi sebagai alat yang digunakan untuk memisahkan senyawa dengan berat
molekul yang berbeda dengan memanfaatkan sentrifuge.
8.
Tabung Reaksi
Di dalam mikrobiologi tabung reaksi
digunakan untuk uji-uji kombinasi dan menumbuhkan mikroba. Tabung reaksi dapat diisi
media padat maupun cair. Tutup tabung reaksi dapat berupa kapas, tutup netral,
tutup plastic atau aluminium foil
9. Beaker
Glass
berguna sebagai alat yang memiliki fungsi dapat digunakan
reparasi media menampung aquades dan untuk mengaduk, mencampur, dan memanaskan
cairan. Serta berfungsi sebagai tempat untuk cairan kimia yang bersifat
korosif.
10.
Water
bath
Alat
ini berfungsi untuk menyimpan media yang masih akan digunakan.
11. Cawan
petri
Cawan
Petri atau telepa Petri adalah sebuah wadah yang bentuknya bundar dan terbuat
dari plastik atau kaca yang digunakan untuk membiakkan sel. Cawan Petri selalu
berpasangan, yang ukurannya agak kecil sebagai wadah dan yang lebih besar
merupakan tutupnya. Alat ini digunakan sebagai wadah untuk penyelidikan tropi
dan juga untuk mengkultur bakteri, khamir, spora, atau biji-bijian. Cawan Petri
plastik dapat dimusnahkan setelah sekali pakai untuk kultur bakteri. Cawan
petri juga dapat digunakan untuk melihat perkecambahan benih atau untuk
mengobservasi hewan kecil. Cawan petri dapat digunakan untuk mengkultur bakteri
ataupun sebagai display lingkungan tertutup bagi insekta dan pembenihan
tanaman. Cawan petri ini terbuat dari polistiren bening dan steril.
V. KESIMPULAN
Dari praktikum pengenalan alat yang telah dilakukan, maka
dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Ketelitian dalam pengerjaan suatu
percobaan sangat menentukan proses jalannya praktikum yang kondusif.
2. Pemahaman terhadap alat–alat praktikum
bertujuan agar praktikan mengetahui nama alat, bagian alat, fungsi dan cara
kerja dari alat tersebut dengan baik.
3. Kebersihan dan kesterilan alat
praktikum sangat menentukan hasil dari praktikum.
4. Penggunaan alat-alat gelas haruslah
sesuai dengan fungsinya agar pekerjaan tersebut dapat berjalan dengan baik dan
tepat.
5. Pembagian alat kuantitatif dan
kualitatif bertujuan membedakan mana alat yang menggunakan tingkat ketelitian.
DAFTAR
PUSTAKA
Ginting, Tjumin. 2007. Penuntun Praktikum Kimia Dasar.
Indralaya: Laboratorium Dasar Bersama Universitas Sriwijaya.
Setiawati, M. S. 2007. Penuntun Praktikum Kimia Organik.
Indralaya: Laboratorium Dasar Bersama Universitas Sriwijaya.
Setiawati, M. S (2). 2008. Penuntun Praktikum Kimia Organik.
Indralaya: Laboratorium Dasar Bersama Universitas Sriwijaya.
(Moningka, 2008)
(Ramli, 2002)
(Riadi, 1990)
(Mardani, 2007)
IBRAHIM WAHID
AKTIVIS KAMMI AL-QUDS UNSRI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar