Kamis, 22 Maret 2012

PENGENALAN ALAT LABORATORIUM


LAPORAN PRATIKUM ORGANISME TANAH
PENGENALAN ALA-ALAT LABORATORIUM



IBRAHIM WAHD
05101007120
C










ASISTEN :         1. DESTARIUS SAPUTRA
                             2. DESINTHA VERONIKA TARIGAN
                             3. GUSTI ADITYA ANDIKA
                             4. KARTIKA
                             5. DESFREDO FERYADI
                             6. JUNINDAH Z SIRAIT


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS INDRALAYA

INDRALAYA
2011

I.              PENDAHULUAN




A.      Latar Belakang
Dalam dunia kimia, kita tidak akan terlepas dari hal-hal yang berkaitan dengan zat-zat yang ada di dalamnya, yaitu zat kimia, dimana zat tersebut mengandung tingkat keracunan tertentu serta memiliki berbagai macam kegunaan. Dari kondisi seperti itu, maka perlulah adanya pembelajaran untuk mendapatkan pengetahuan dan kemampuan untuk itu. Dan untuk mendapatkan pengetahuan serta kemampuan tersebut perlu adanya kegiatan seperti praktikum untuk mengidentifikasi apakah zat itu beracun atau tidak, berguna atau tidak, dan sebagainya.
Seperti yang diketahui, sebuah praktikum itu tentunya harus menggunakan alat-alat laboratorium guna mendukung jalannya kegiatan praktikum tersebut. Dimana tentu saja praktikan tidak dapat secara langsung menggunakan alat-alat tersebut tanpa mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang cukup untuk itu. Sebab alat-alat tersebut memiliki prosedur-prosedur dalam penggunaannya.
Maka dari itu, pengenalan alat-alat laboratorium oleh praktikan dirasa penting agar sebuah praktikum dapat berjalan sebagaimana mestinya. Namun tidak hanya dikenal begitu saja, praktikanpun seyogyanya mesti pula mengetahui fungsi dari masing-masing alat-alat tersebut.



B.       Tujuan
Tujuan dari pengenalan alat laboratorium ini adalah agar mahasiswa mengenal dan mengetahui fungsi dari tiap-tiap alat laboratorium




II.      TINJAUAN PUSTAKA




Seperti yang telah dijelaskan, bahwa teori pengenalan alat-alat laboratorium bertujuan untuk membuat praktikan mengetahui fungsi atau kegunaan alat-alat laboratorium, oleh karena itu, fungsi daripada tiap-tiap alat akan dijelaskan dengan tujuan agar praktikan dapat memahami secara jelas kegunaan alat-alat laboratorium yang akan dipakai. Pada dasarnya setiap alat memiliki nama yang menunjukkan kegunaan alat tersebut, prinsip kerja atau proses yang berlangsung ketika alat digunakan. Beberapa kegunaan alat dapat dikenali berdasarkan namanya. Penamaan alat-alat yang berfungsi mengukur biasanya diakhiri dengan kata meter seperti thermometer, hygrometer, spektrofotometer, dll. Alat-alat pengukur yang disertai dengan informasi tertulis, biasanya diberi tambahan “graph” seperti thermograph, barograph (Moningka, 2008).
Dari uraian tersebut, tersirat bahwa nama pada setiap alat menggambarkan mengenai kegunaan alat dan atau menggambarkan prinsip kerja pada alat yang bersangkutan. Dalam penggunaannya ada alat-alat yang bersifat umum dan ada pula yang khusus. Peralatan umum biasanya digunakan untuk suatu kegiatan reparasi, sedangkan peralatan khusus lebih banyak digunakan untuk suatu pengukuran atau penentuan (Moningka, 2008).
Penggunaan beberapa alat gelas dengan tepat penting untuk diketahui agar pekerjaan tersebut dapat berjalan dengan baik. Kesalahan dalam penggunaan alat-alat ini dapat mempengaruhi hasil yang akan diperoleh. Oleh karena itu harus diberikan pelatihan tentang penggunaan alat-alat tersebut.
Penggunaan alat-alat gelas tersebut haruslah sesuai dengan fungsinya agar pekerjaan tersebut dapat berjalan dengan baik dan tepat. Apabila terjadi suatu kesalahan atau kekeliruan dalam penggunaannya akan mempengaruhi hasil yang diperoleh. Ada beberapa macam alat gelas yang dipakai di laboratorium, antara lain: gelas piala (beker gelas), erlenmeyer, gelas ukur, botol, pipet, corong, tabung reaksi, gelas objek dan gelas penutup, cawan petri dan kamar hitung.
Terdapat dua kelompok alat-alat ukur yang digunakan pada analisa kuantitatif, yaitu: Alat-alat yang teliti (kuantitatif) dan alat-alat yang  tidak teliti (kualitatif). Untuk alat-alat yang teliti (kuantitatif) terdiri dari : buret, labu ukur, pipet. Sedangkan untuk alat-alat yang tidak teliti (kualitatif) terdiri dari gelas ukur, erlenmeyer, dan lainnya. Dalam prakteknya baik analisa maupun sintesa, sesorang yang mempelajari atau menekuni bidang kimia pasti akan selalu dihadapkan pada hal-hal yang berhubungan dengan alat-alat dan bahan kimia.
Pada umumnya laboratorium itu mempunyai fungsi sebagai sarana atau tempat untuk mengadakan kegiatan-kegiatan pengujian, pengamatan, pengkajian, pengukuran, dan pengembangan terhadap gejala-gejala, perilaku, sifat-sifat dan penerapan atau penggunaan unsur-unsur seperti alat, komponen dan sistem elektrikan (Ramli, 2002). Karena pentingnya pengenalan alat ini maka setiap praktikan diwajibkan mengetahui dan memahami cara kerja dan fungsi dari alat-alat yang ada di laboratorium.
Selain untuk menghindari kecelakaan dan bahaya, dengan memahami cara kerja dan fungsi dari masing-masing alat, praktikan dapat melaksanakan praktikum dengan sempurna, kebersihan alat yang digunakan dan ketelitian praktikan dalam perhitungan sangat mempengaruhi keberhasilan dalam suatu praktikum, dengan ketelitian dan ketepatan penggunaan alat maka kesalahan dalam praktikum dapat diminimalisir (Riadi, 1990). Maka, dari penjelasan yang telah diuraikan diatas, dalam pelaksanaannya diharapkan kita dapat melakukan percobaan dengan baik, dimana selain memperkenalkan alat dan fungsinya kita juga harus mengetahui cara kerja dan sistematika penggunaan alat-alat tersebut secara tepat dan akurat, karena dengan mengetahui sistematika atau langkah-langkah penggunaan alat akan membuat praktikan tahu bagaimana mengatasi kesalahan-kesalahan yang dapat terjadi pada alat saat kita melakukan percobaan dilaboratorium (Mardani, 2007).





III.   PELAKSANAAN PRATIKUM




A.      Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan di laboratorium Fisika, Jurusan Ilmu Tanah pada pukul 13.00 WIB, dan di Laboratorium Fitopatologi Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman pada pukul 14.00 WIB.



B.       Cara Kerja
Pertama-tama diperkenalkan alat-alatnya di Laboratorium Fisika Jurusan Tanah, Kemudian dilanjutkan di Laboratorium Fitopatologi Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman.










IV.    HASIL DAN PEMBAHASAN




1.    Mikroskop Steril










Mikroskop steril berfungsi melihat objek yang membutuhkan tidak terlalu besar. Di laboratorium Mikrobiologi, mikroskop stereo biasanya digunakan untuk mengamati secara detail bentuk koloni dan jamur. Mikroskop stereo ini juga digunakan untuk melihat benda-benda yang berukuran relatif agak besar. Mikroskop stereo ini punya perbesaran 7 hingga 30 kali. Benda yang diamati dengan mikroskop ini juga akan terlihat secara tiga dimensi. Beberapa perbedaan dengan mikroskop cahaya adalah sebagai berikut :
a. Ketajaman lensa mikroskop stereo jauh lebih tinggi dibandingkan dengan
 mikroskop cahaya sehingga kita dapat melihat bentuk tiga dimensi benda
 yang diamati.
b.   Sumber  cahaya   berasal  dari  atas sehingga  objek yang tebal  dapat diamati



2.    Autoklaf










Autoklaf adalah alat pemanas tertutup yang digunakan untuk mensterilisasi suatu benda menggunakan uap bersuhu dan bertekanan tinggi (1210C, 15 lbs) selama kurang lebih 15 menit. Penurunan tekanan pada autoklaf tidak dimaksudkan untuk membunuh mikroorganisme, melainkan meningkatkan suhu dalam autoklaf. Suhu yang tinggi inilah yang akan membunuh microorganisme. Autoklaf terutama ditujukan untuk membunuh endospora, yaitu sel resisten yang diproduksi oleh bakteri, sel ini tahan terhadap pemanasan, kekeringan, dan antibiotik. Pada spesies yang sama, endospora dapat bertahan pada kondisi lingkungan yang dapat membunuh sel vegetatif bakteri tersebut. Endospora dapat dibunuh pada suhu 100 °C, yang merupakan titik didih air pada tekanan atmosfer normal. Pada suhu 121 °C, endospora dapat dibunuh dalam waktu 4-5 menit, dimana sel vegetatif bakteri dapat dibunuh hanya dalam waktu 6-30 detik pada suhu 65 °C.Perhitungan waktu sterilisasi autoklaf dimulai ketika suhu di dalam autoklaf mencapai 121 °C. Jika objek yang disterilisasi cukup tebal atau banyak, transfer panas pada bagian dalam autoklaf akan melambat, sehingga terjadi perpanjangan waktu pemanasan total untuk memastikan bahwa semua objek bersuhu 121 °C untuk waktu 10-15 menit.


3.    Inkubator







Incubator adalah alat pengontrol temperatur, kelembaban, dan kondisi lainnya yang memungkinkan untuk pertumbuhan kultur mikrobiologi. Inkubator yang paling sederhana dapat berupa kotak isolasi dengan pemanas yang dapat dikontrol, biasanya dengan suhu antara 60-65 oC (140-150 oF), ada pula yang dapat mencapai suhu lebih dari itu namun tidak lebih dari 100 oC. Kemampuan inkubator lainnya adalah dapat digunakan untuk penyimpanan pada temperatur rendah (biasanya digantikan dengan refrigerator) atau dapat pula sebagai kontrol kelembaban atau tingkat CO2. Sebagian besar inkubator memiliki timer. Kelemahan inkubator adalah pada saat penggunaan kelembaban karena seringkali terkontaminasi oleh fungi. Pencucian ulang bagian dalam inkubator dengan alkohol, zefiran, tembaga sulfat, dan deterjen dapat mengkontrol kontaminasi hanya beberapa saat saja. Fumigasi dengan formalin, walaupun efektif, namun meninggalkan bekas formaldehid yang sulit dihilangkan dan dapat diabsorbsi oleh media dalam cawan petri.


4.    Colony Counter









Alat ini berguna untuk mempermudah perhitungan koloni yang tumbuh setelah diinkubasi di dalam cawan karena adanya kaca pembesar. Selain itu alat tersebut dilengkapi dengan skala/ kuadran yang sangat berguna untuk pengamatan pertumbuhan koloni sangat banyak. Jumlah koloni pada cawan Petri dapat ditandai dan dihitung otomatis yang dapat di-reset.





5.    Mikro pipet







Mikropipet adalah alat untuk memindahkan cairan yang bervolume cukup kecil, biasanya kurang dari 1000 µl. Banyak pilihan kapasitas dalam mikropipet, misalnya mikropipet yang dapat diatur volume pengambilannya (adjustable volume pipette) antara 1µl sampai 20 µl, atau mikropipet yang tidak bisa diatur volumenya, hanya tersedia satu pilihan volume (fixed volume pipette) misalnya mikropipet 5 µl. dalam penggunaannya, mukropipet memerlukan tip.








6.    Laminar Flow







Laminar Flow (LF) berfungsi sebagai alat yang berguna untuk bekerja secara aseptis karena laminar mempunyai pola pengaturan dan penyaring aliran  udara sehingga menjadi steril dan aplikasi sinar uv beberapa jam sebelum dipakai. Prinsip penaseptisan suatu ruangan berdasarkan aliran udara keluar dengan kontaminasi udara dapat diminimalkan.









7.    Centrifuge







Centrifuge berfungsi sebagai alat yang digunakan untuk memisahkan senyawa dengan berat molekul yang berbeda dengan memanfaatkan sentrifuge.












8.        Tabung Reaksi









Di dalam mikrobiologi tabung reaksi digunakan untuk uji-uji kombinasi dan menumbuhkan mikroba. Tabung reaksi dapat diisi media padat maupun cair. Tutup tabung reaksi dapat berupa kapas, tutup netral, tutup plastic atau aluminium foil








9.    Beaker Glass








berguna sebagai alat yang memiliki fungsi dapat digunakan reparasi media menampung aquades dan untuk mengaduk, mencampur, dan memanaskan cairan. Serta berfungsi sebagai tempat untuk cairan kimia yang bersifat korosif.















10.              Water bath











Alat ini berfungsi untuk menyimpan media yang masih akan digunakan.











11.    Cawan petri









Cawan Petri atau telepa Petri adalah sebuah wadah yang bentuknya bundar dan terbuat dari plastik atau kaca yang digunakan untuk membiakkan sel. Cawan Petri selalu berpasangan, yang ukurannya agak kecil sebagai wadah dan yang lebih besar merupakan tutupnya. Alat ini digunakan sebagai wadah untuk penyelidikan tropi dan juga untuk mengkultur bakteri, khamir, spora, atau biji-bijian. Cawan Petri plastik dapat dimusnahkan setelah sekali pakai untuk kultur bakteri. Cawan petri juga dapat digunakan untuk melihat perkecambahan benih atau untuk mengobservasi hewan kecil. Cawan petri dapat digunakan untuk mengkultur bakteri ataupun sebagai display lingkungan tertutup bagi insekta dan pembenihan tanaman. Cawan petri ini terbuat dari polistiren bening dan steril.




V.  KESIMPULAN




Dari praktikum pengenalan alat yang telah dilakukan, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.    Ketelitian dalam pengerjaan suatu percobaan sangat menentukan proses jalannya praktikum yang kondusif.
2.    Pemahaman terhadap alat–alat praktikum bertujuan agar praktikan mengetahui nama alat, bagian alat, fungsi dan cara kerja dari alat tersebut dengan baik.
3.    Kebersihan dan kesterilan alat praktikum sangat menentukan hasil dari praktikum.
4.    Penggunaan alat-alat gelas haruslah sesuai dengan fungsinya agar pekerjaan tersebut dapat berjalan dengan baik dan tepat.
5.    Pembagian alat kuantitatif dan kualitatif bertujuan membedakan mana alat yang menggunakan tingkat ketelitian.
























DAFTAR PUSTAKA




Ginting, Tjumin. 2007. Penuntun Praktikum Kimia Dasar. Indralaya: Laboratorium Dasar Bersama Universitas Sriwijaya.

Setiawati, M. S. 2007. Penuntun Praktikum Kimia Organik. Indralaya: Laboratorium Dasar Bersama Universitas Sriwijaya.

Setiawati, M. S (2). 2008. Penuntun Praktikum Kimia Organik. Indralaya: Laboratorium Dasar Bersama Universitas Sriwijaya.

(Moningka, 2008)

(Ramli, 2002)

(Riadi, 1990)

(Mardani, 2007)

IBRAHIM WAHID
AKTIVIS KAMMI AL-QUDS UNSRI

KELEMBABAN UDARA


I.  PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
            Atmosfer merupakan campuran dari udara kering dan uap air. Kelembaban udara adalah tingkat kebasahan udara karena dalam udara air selalu terkandung dalam bentuk uap air. Kandungan uap air dalam udara hangat lebih banyak daripada kandungan uap air dalam udara dingin. Kalau udara banyak mengandung uap air didinginkan maka suhunya turun dan udara tidak dapat menahan lagi uap air sebanyak itu. Uap air berubah menjadi titik-titik air. Udara yan mengandung uap air sebanyak yang dapat dikandungnya disebut udara jenuh.
Kelembapan juga dapat didefinissikan sebagai  konsentrasi uap air di udara. Angka konsentasi ini dapat diekspresikan dalam kelembapan absolut, kelembapan spesifik atau kelembapan relatif. Alat untuk mengukur kelembapan disebut higrometer. Sebuah humidistat digunakan untuk mengatur tingkat kelembapan udara dalam sebuah bangunan dengan sebuah pengawalembap (dehumidifier). Dapat dianalogikan dengan sebuah termometer dan termostat untuk suhu udara. Perubahan tekanan sebagian uap air di udara berhubungan dengan perubahan suhu. Konsentrasi air di udara pada tingkat permukaan laut dapat mencapai 3% pada 30 °C (86 °F), dan tidak melebihi 0,5% pada 0 °C       (32 °F).
Kelembaban tinggi artinya ada banyak uap air di udara, dan kelembaban rendah berarti hanya sedikit uap air di udaraKelembaban udara dapat dinyatakan sebagai kelembaban absolut, kelembaban nisbi (relatif), maupun defisit tekanan uap air. Beberapa cara untuk menyatakan jumlah uap air yaitu :
1.      Tekanan uap adalah tekanan parsial dari uap air. Dalam fase gas maka uap air di dalam atmosfer seperti gas sempurna (ideal).
2.      Kelembaban mutlak yaitu massa air yang terkandung dalam satu satuan volume udara lengas.
3.      Nisbah percampuran (mixing ratio) yaitu nisbah massa uap air terhadap massa udara kering.
4.      Kelembaban spesifik didefinisikan sebagai massa uap air persatuan massa udara basah.
5.      Kelembaban nisbi (RH) ialah perbandingan nisbah percampuran dengan nilai jenuhnya dan dinyatakan dalam %.
  1. Suhu virtual.
Besaran yang sering dipakai untuk menyatakan kelembaban udara adalah kelembaban nisbi yang diukur dengan psikrometer atau higrometer. Kelembaban nisbi berubah sesuai tempat dan waktu. Pada siang hari kelembaban nisbi berangsur – angsur turun kemudian pada sore hari sampai menjelang pagi bertambah besar.

B. Tujuan
            Untuk mengetahui prinsip penggunaan alat dan fungsi thermometer bola kering dan bola basah  secara detail dan benar sehingga kesalahan dalam penggunaan dapat diminimalisirkan seminim mungkin. dan untuk mengetahui jenis- jenis alat yang digunakan untuk mengukur kelembaban nisbi.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Kelembaban udara adalah tingkat kebasahan udara karena dalam udara air selalu terkandung dalam bentuk uap air. Kandungan uap air dalam udara hangat lebih banyak daripada kandungan uap air dalam udara dingin. Kalau udara banyak mengandung uap air didinginkan maka suhunya turun dan udara tidak dapat menahan lagi uap air sebanyak itu. Uap air berubah menjadi titik-titik air. Udara yan mengandung uap air sebanyak yang dapat dikandungnya disebut udara jenuh.
Kelembapan juga dapat didefinissikan sebagai  konsentrasi uap air di udara. Angka konsentasi ini dapat diekspresikan dalam kelembapan absolut, kelembapan spesifik atau kelembapan relatif. Alat untuk mengukur kelembapan disebut higrometer. Sebuah humidistat digunakan untuk mengatur tingkat kelembapan udara dalam sebuah bangunan dengan sebuah pengawalembap (dehumidifier). Dapat dianalogikan dengan sebuah termometer dan termostat untuk suhu udara. Perubahan tekanan sebagian uap air di udara berhubungan dengan perubahan suhu. Konsentrasi air di udara pada tingkat permukaan laut dapat mencapai 3% pada 30 °C (86 °F), dan tidak melebihi 0,5% pada 0 °C       (32 °F) (Salmin,2001 )
Macam-macam kelembaban udara sebagai berikut :  
1)   Kelembaban relatif / Nisbi yaitu perbandingan jumlah uap air di udara dengan yang terkandung di udara pada suhu yang sama, atau perbandingan kandungan (tekanan) uap air aktual dengan keadaan jenuhnya (g/kg). Kelembaban relatif dari suatu campuran udara-air didefinisikan sebagai rasio dari tekanan parsial uap air dalam campuran terhadap tekanan uap jenuh air pada temperatur tersebut. Kelembaban relatif menggunakan satuan persen dan ada beberapa cara menentukannya antar lain dengan mengunakan  kelembaban relatif campuran,  tekanan parsial uap air dalam campuran, dan tekanan uap jenuh air pada temperatur tersebut dalam campuran.
Kelembaban nisbi paling umum digunakan tetapi sering disalah mengerti, tidak menunjukkan jumlah uap air yang sebenarnya di udara, tergantung suhu udara. Udara yang panas memiliki kemampuan yang besar dalam menampung uap air dibandingkan udara yang dingin. Pada udara dingin air akan cenderung berbentuk cair bukan uap Massa udara lembab adalah total massa dari seluruh gas-gas atmosfer yang terkandung, termasuk uap air. Jika massa uap air tidak diikutkan maka disebut sebagai massa udara kering (dry air) Data klimatologi kelembaban nisbi (relatif) atau relative humidity (disingkat RH) dan dinyatakan dalam% (persen). Kelembaban diukur sebagai persen, relatif terhadap titik jenuh dimana udara tidak mampu lagi menampung tambahan uap air (i.e. 100% kelembaban).
Tingkat kelembaban bervariasi menurut suhu. Semakin hangat suhu udara, semakin banyak uap air yan dapat ditampung. Semakin rendah suhu udara, semakin sedikit jumlah uap air yang dapat ditampung. Jadi pada siang hari yang panas dapat menjadi lebih lembab dibandingkan dengan hari yang dingin.              ( Jamulya, 2001 )
Kemampuan udara untuk menampung uap air dipengaruhi oleh suhu. Jika udara jenuh uap air dinaikkan suhunya, maka udara tersebut menjadi tidak jenuh uap air. Sebaliknya, jika udara tidak jenuh uap air suhunya diturunkan dan kerapatan airnya dijaga konstan, maka udara tersebut akan mendekati kondisi jenuh uap air. Jadi ketika udara hangat naik dan mulai mendingin, lama kelamaan akan kehilangan kemampuan untuk menahan / menampung uap air. Pada kondisi tekanan/kerapatan uap air jenuh, maka udara tidak dapat lagi menampung tambahan uap air. Suhu pada saat udara mencapai kondisi jenuh uap air disebut suhu titik embun (dew-point temperature). Pada suhu titik embun terjadi saat ea=es atau RH 100%, bila suhu terus turun maka uap air akan berubah menjadi air  (disebut dengan kondensasi). ( Achmad Chaldun, 1995)
Udara dapat menampung sejumlah uap air tertentu sebelum terjadi kondensasi, di alam, pengembunan terjadi pada pagi hari sekitar saat terjadinya suhu udara minimum. Proses kondensasi ini juga terjadi di atmosfer yang tingggi (awan), yang kemudian kita alami sebagai terjadinya hujan (presipitasi). RH lebih rendah pada siang hari, lebih tinggi pada malam hari. Kapasitas udara untuk menampunguap air (es) semakin tinggi dengan naiknya  suhu udara, maka pada tekanan uap aktual (ea) yang relative sama antara siang dan malam, RH siang < malam. RH maks pengembunan pada tempat terbuka.       ( Irwan , 1994 )
Proses pengembunan terjadi bila udara bersentuhan dengan bidang/permukaan yang suhunya lebih rendah dari suhu titik embun. Variasi RH udara di Indonesia (tropika basah) tidak terlalu besar sepanjang tahun; RH > 60%, Daerah pantai RH tinggi, karena air banyak tersedia untuk diuapkan ke udara akibat suhu yang tinggi (ea tinggi). Daerah pegunungan RH tinggi karena suhunya rendah sehingga kapasitas udara untuk menampung uap air relatif kecil (es rendah). RH dipengaruhi suhu yang menentukan besarnya es dan ea, sedangkan ea ditentukan oleh ketersediaan air tempat tersebut serta energi untuk menguapkannya. RH umumnya tinggi pada pusat-pusat tekanan rendah, berkaitan dengan naiknya massa udara sebagai salah satu syarat pembentukan awan dan hujan. Jadi daerah ITCZ (Inter Tropical Convergence Zone) memiliki RH tinggi. Daerah tropis memiliki kelembaban yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah subtropics. RH umumnya rendah pada pusat-pusat tekanan tinggi, selain jarang hujan, juga karena massa udara yang turun membawa udara kering karena uap air sudah terkondensasi menjadi awan di tempat lain. Metode pertambahan panjang pada benda-benda higroskopis (=mudah menyerap air or uap air)
2. Metode pertambahan berat pada benda-benda higroskopis
3. Metode termodinamika
Alat pengukur kelembaban udara secara umum disebut higrometer, Kelembapan udara sebanding dengan selisih kedua termometer yang dapat dicari melalui tabel atau rumus. Alat pengukur kelembapan lain adalah sensor rambut. Prinsipnya bila udara lembab rambut bertambah panjang dan udara kering rambut menyusut. Perubahan panjang ini secara mekanis dapat ditransfer ke jarum penunjuk pada skala antara 0 sampai 100 %.  Sedangkan yang menggunakan prinsip metode termodinamika disebut dengan psikrometer.
Termohigrograf juga merupakan alat untuk mengukur kelembaban udara alat ini menggunakan prinsip dengan sensor rambut untuk mengukur kelembapan udara dan menggunakan bimetal untuk sensor suhu udara. Kedua sensor dihubungkan secara mekanis ke jarum penunjuk yang merupakan pena penulis di atas kertas pias yang berputar menurut waktu. Alat dapat mencatat suhu dan kelembapan setiap waktu secara otomatis pada pias. Melalui suatu koreksi dengan psikrometer kelembapan udara dari saat ke saat tertentu.

Psikrometer (termometer bola basah dan termometer bola kering) digunakan untuk mengukur kelembaban udara. Prinsip kerja yang digunakan psikrometer adalah didasarkan pada prinsip termodinamika, terutama tentang hubungan suhu dan tekanan jenuh udara. Pembacaan alat ini yaitu berdasarkan suhu yang ditunjukkan oleh bola basah dan bola kering, maka dapat diketahui selisih suhu antara bola kering terhadap bola basah. Pembasah termometer bola basah harus dijaga agar jangan sampai kotor. Gantilah kain pembasah bila kotor atau daya airnya telah berkurang. Dua minggu atau sebulan sekali perlu diganti, tergantung cepatnya kotor. Musim kemarau pembasah cepat sekali kotor oleh debu. Air pembasah harus bersih dan jernih. Pakailah air bebas ion atau aquades. Air banyak mengandung mineral akan mengakibatkan terjadinya endapan garam pada termometer bola basah dan mengganggu pengukuran. Waktu pembacaan terlebih dahulu bacalah termometer bola kering kemudian termometer bola basah. Suhu udara yang ditunjukkan termometer bola kering lebih mudah berubah daripada termometer bola basah. Semua alat pengukur kelembapan udara ditaruh dalam sangkar cuaca terlindung dari radiasi surya langsung atau radiasi bumi serta hujan.( Bayong Tjasyono, 1999)
Nilai selisih ini kemudian menghasilkan presentase kelembaban nisbi dengan bantuan tabel kelembaban atau mistar geser Relatif Humidity (RH). Jika semua syarat penggunaan terpenuhi, maka psikrometer mempunyai ketelitian yang tinggi sehingga alat ini lebih sering digunakan dibandingkan dengan higrometer maupun higrograf. Alat ini ditempatkan dalam sangkar meteorologi dalam kedudukan tegak. Salah satu bola termometernya terbuka dan disebut termometer bola kering dan yang lainnya bola termometer dibungkus dengan kain kasa. Ujung dari kain kain kasa ini dimasukkan ke dalam bejana yang diisi dengan air suling (aquadest).
2)   Kelembaban absolut / mutlak yaitu banyaknya uap air dalam gram pada 1 m3, atau kandungan uap air (dapat dinyatakan dengan massa uap air atau tekanannya) per satuan volume (kg/m3).
3) Kelembapan spesifik
Kelembapan spesifik adalah metode untuk mengukur jumlah uap air di udara dengan rasio terhadap uap air di udara kering. Kelembapan spesifik diekspresikan dalam rasio kilogram uap air, mw, per kilogram udara, ma .( Fiona Watt, 2004)














III.  PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A.  Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari jum’at,  tanggal 27 mei 2011, pukul 17.00 wib – 18.00 wib, dan pada hari sabtu, tanggal 28 mei 2011, pukul 06.00 wib -12.00 wib di Agro Techno Park 1 daerah Gelumbang Sumatera Selatan.

B. Alat dan Bahan
            Adapun alat dan bahan yang digunakan adalah pengamatan kelembaban nisbi  adalah Psikrometer (termometer bola basah dan termometer bola kering), tabel pengamatan dan alat-alat tulis. 


C. Cara Kerja
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Psikrometer (termometer bola basah dan termometer bola kering) dipasang sehari sebelum pengamatan dilakukan, hal ini dilkukan agar data yang diperoleh pada saat pengamatan dapat akurat.
3. Pengamatan dilakukan secara berkala, setelah pengamatan awal dilakukan pengamtan selanjutnya dilakukan setelah 30 menit pengamatan pertama. Dan dilakukan secara terus-menerus sampai batas waktu yang telah ditentukan.
4.   Catat hasil pengamatan pada lembar kerja !

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN`
A.  Hasil
Jam
Kelembaban Nisbi
Suhu Bola Kering
Suhu Bola Basah
17.00
30,030 C
28,90 C
17.30
29,020 C
28,40 C
18.00
-
-
06.00
240 C
240 C
06.30
250 C
250 C
07.00
25,10 C
24,90 C
07.30
260 C
240 C
08.00
26,10 C
25,30 C
08.30
280 C
26,80 C
09.00
270 C
28,30 C
09.30
28,30 C
27,20 C
10.00
29,90 C
28,20 C
10.30
30,20 C
28,60 C
11.00
310 C
28,60 C
11.30
330 C
280 C
12.00
32,50 C
29,10 C


B. Pembahasan
Kami dari kelompok IV mengambil sampel pengamatan kelembaban nisbi pada pukul 06.00 wib, dan pukul 10.00 wib, dan diperoleh hasilnya sebagai berikut suhu bola kering pada pukul 06.00 wib sebesar 24, suhu bola kering 24, sedangkan pengamatan pada pukul 10.00 wib didapati suhu bola kering sebesar 29,9 dan suhu bola basah sebesar 28,2. Data-data yang lengkap dan akurat tersebut hanya bisa didapatkan dengan cara melakukan pengamatan langsung. Tentu saja dibantu dengan beberapa alat meteorologi yang mempunyai fungsi dan tugas tertentu. Dalam pelaksanaan pengambilan data dengan menggunakan alat khusus tentunya dibutuhkan suatu keahlian menggunakan alat agar data yang diambil lebih akurat dan valid. 
Alat yang digunakan dalam pengamatan kelembaban nisbi adalah psikrometer (termometer bola basah dan termometer bola kering). Prinsip kerja yang digunakan psikrometer adalah didasarkan pada prinsip termodinamika, terutama tentang hubungan suhu dan tekanan jenuh udara.
Pembacaan alat ini yaitu berdasarkan suhu yang ditunjukkan oleh bola basah dan bola kering, maka dapat diketahui selisih suhu antara bola kering terhadap bola basah. Nilai selisih ini kemudian menghasilkan presentase kelembaban nisbi dengan bantuan tabel kelembaban atau mistar geser Relatif Humidity (RH). Jika semua syarat penggunaan terpenuhi, maka psikrometer mempunyai ketelitian yang tinggi sehingga alat ini lebih sering digunakan dibandingkan dengan higrometer maupun higrograf. Alat ini ditempatkan dalam sangkar meteorologi dalam kedudukan tegak. Salah satu bola termometernya terbuka dan disebut termometer bola kering dan yang lainnya bola termometer dibungkus dengan kain kasa. Ujung dari kain kain kasa ini dimasukkan ke dalam bejana yang diisi dengan air suling (aquadest).
Pembasah termometer bola basah harus dijaga agar jangan sampai kotor. Gantilah kain pembasah bila kotor atau daya airnya telah berkurang. Dua minggu atau sebulan sekali perlu diganti, tergantung cepatnya kotor. Musim kemarau pembasah cepat sekali kotor oleh debu. Air pembasah harus bersih dan jernih. Pakailah air bebas ion atau aquades. Air banyak mengandung mineral akan mengakibatkan terjadinya endapan garam pada termometer bola basah dan mengganggu pengukuran.
Waktu pembacaan terlebih dahulu bacalah termometer bola kering kemudian termometer bola basah. Suhu udara yang ditunjukkan termometer bola kering lebih mudah berubah daripada termometer bola basah. Semua alat pengukur kelembapan udara ditaruh dalam sangkar cuaca terlindung dari radiasi surya langsung atau radiasi bumi serta hujan.
Kelembaban tinggi artinya ada banyak uap air di udara, dan kelembaban rendah berarti hanya sedikit uap air di udara. Kelembaban udara dapat dinyatakan sebagai kelembaban absolut, kelembaban nisbi (relatif), maupun defisit tekanan uap air.
RH lebih rendah pada siang hari, lebih tinggi pada malam hari. Kapasitas udara untuk menampunguap air (es) semakin tinggi dengan naiknya  suhu udara, maka pada tekanan uap aktual (ea) yang relative sama antara siang dan malam, RH siang < malam. RH maksimal pengembunan pada tempat terbuka.
Kandungan uap air dalam udara hangat lebih banyak daripada kandungan uap air dalam udara dingin. Kalau udara banyak mengandung uap air didinginkan maka suhunya turun dan udara tidak dapat menahan lagi uap air sebanyak itu. Uap air berubah menjadi titik-titik air. Udara yan mengandung uap air sebanyak yang dapat dikandungnya disebut udara jenuh.
Kemampuan udara untuk menampung uap air dipengaruhi oleh suhu. Jika udara jenuh uap air dinaikkan suhunya, maka udara tersebut menjadi tidak jenuh uap air. Sebaliknya, jika udara tidak jenuh uap air suhunya diturunkan dan kerapatan airnya dijaga konstan, maka udara tersebut akan mendekati kondisi jenuh uap air. Jadi ketika udara hangat naik dan mulai mendingin, lama kelamaan akan kehilangan kemampuan untuk menahan / menampung uap air. Pada kondisi tekanan/kerapatan uap air jenuh, maka udara tidak dapat lagi menampung tambahan uap air.
Tingkat kelembaban bervariasi menurut suhu. Semakin hangat suhu udara, semakin banyak uap air yan dapat ditampung. Semakin rendah suhu udara, semakin sedikit jumlah uap air yang dapat ditampung. Jadi pada siang hari yang panas dapat menjadi lebih lembab dibandingkan dengan hari yang dingin.   
Udara dapat menampung sejumlah uap air tertentu sebelum terjadi kondensasi, di alam, pengembunan terjadi pada pagi hari sekitar saat terjadinya suhu udara minimum. Udara yang panas memiliki kemampuan yang besar dalam menampung uap air dibandingkan udara yang dingin.
Kelembaban nisbi berubah sesuai tempat dan waktu. Pada siang hari kelembaban nisbi berangsur – angsur turun kemudian pada sore hari sampai menjelang pagi bertambah besar.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
            Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Kelembaban udara adalah tingkat kebasahan udara karena dalam udara air selalu terkandung dalam bentuk uap air.
2.  Pengamatan kelembaban nisbi pada pukul 06.00 wib, dan pukul 10.00 wib, dan diperoleh hasilnya sebagai berikut suhu bola kering pada pukul 06.00 wib sebesar 24, suhu bola kering 24, sedangkan pengamatan pada pukul 10.00 wib didapati suhu bola kering sebesar 29,9 dan suhu bola basah sebesar 28,2.
3. Alat yang digunakan dalam pengamatan kelembaban nisbi adalah psikrometer (termometer bola basah dan termometer bola kering).
4. Prinsip kerja yang digunakan psikrometer adalah didasarkan pada prinsip termodinamika, terutama tentang hubungan suhu dan tekanan jenuh udara.
5. Pembasah termometer bola basah harus dijaga agar jangan sampai kotor. Gantilah kain pembasah bila kotor atau daya airnya telah berkurang.

B. Saran
            Dalam pelaksanaan pengambilan data dengan menggunakan alat khusus tentunya dibutuhkan suatu keahlian menggunakan alat agar data yang diambil lebih akurat dan valid. Dan waktu pembacaan terlebih dahulu bacalah termometer bola kering kemudian termometer bola basah.
DAFTAR PUSTAKA
Achmad Chaldun. 1995. Klimatologi umum.Surabaya : Karya Swajaya
Bayung Tjasyono. 1999. Geografi. Bandung : Institut Teknologi Bandung
Fiona Watt. 2004. Geologi dan Perubahan. Jakarta : Ghalia Indonesia
Irwan .1994. Bumi dan Permukaanya. Jakarta : Tira Pustaka
Jamulya. 2001.Geologi dan Perubahan. Jakarta : Tira Pustaka
Saimin. 2001. Pengantar Geografi Dan Perubahan. Bandung : Pakar Raya

IBRAHIM WAHID
AKTIVIS KAMMI AL-QUDS UNSRI