Selamatkan Generasi masa Depan
Di era teknologi yang semakin pesat, kebutuhan
akan informasi dan hal lainnya hanya dilakukan dengan sentuhan jari. Betapa
luar biasanya zaman sekarang, berbeda jauh dari tahun-tahun sebelumnya. Dan
orang-orang yang hidup di era ini sudah pasti telah menikmati kemajuan
teknologi tersebut. Sebut saja internet yang bisa diakses dimana saja melalui
handphone, televisi yang selalu berinovasi dengan acaranya dan yang lainnya. Ini
diciptakan untuk mempermudah memenuhi kebutuhan informasi, komunikasi, hiburan
dan kebutuhan-kebutuhan lain yang tak terhingga jumlahnya.
Tapi dibalik semua kemajuan teknologi ini
tentu akan berdampak pada anak-anak yang
hidup di era sekarang ini.
Banyak acara yang ditampilkan khusus untuk
anak-anak seperti acara edukatif dan acara menghibur lainnya. Tapi Jika dilihat
lebih mendalam anak-anak jadi terpaku pada televisi dan melupakan
lingkungannya. Padahal sebagai anak-anak mereka juga membutuhkan waktu untuk
bersosialisasi dengan teman sebayanya. Ketika anak-anak mulai ‘menjauh’ dari
kehidupan sosial mereka, maka dampaknya adalah pada mental yang mereka miliki
dan mereka akan cenderung kurang mandiri dan apatis. Dan sangat jelas ini
berbahaya jika sikap apatis ini telah menjamur pada diri mereka.
Yang lebih berbahaya jika anak-anak menonton
tayangan sinetron, kita semua tahu sinetron menyajikan acara yang sangat kurang
mendidik. Sebut saja, tayangan ini mengajarkan bagaimana menghancurkan rumah
tangga orang, meracuni orang, menumbuhkan sikap kebencian dan iri hati terhadap
orang lain dan masih banyak ajaran yang sangat kurang mendidik untuk anak-anak.
Ketika bocah Singapura diajarkan filosofi “Tsun
Zu” , anak-anak Indonesia diracuni tayangan “sinetron”. Ini sangat jelas berbahaya bagi anak-anak karena mereka
adah asset yang sangat berharga bagi negara untuk kemajuan bangsa. Tentu kita
bisa membayangkan dampaknya yang akan terjadi pada lingkungan.
Ini baru permasalahan televisi, belum lagi
handphone canggih yang telah mereka miliki untuk seumuran mereka. Dengan
handphone yang seperti ini tentu saja ini berbahaya. Mereka bisa mendapatkan
apa yang mereka inginkan dengan memasuki dunia maya. Contoh kecil mereka bisa
memasuki content yang belum cocok untuk seumuran mereka.
Tak cukup sampai disitu, yang saya lihat
sekarang permainan tradisional pun mulai lenyap dimakan waktu. Karena anak-anak
sekarang lebih suka permainan online melalui internet. Sebut saja yang populer
dimainkan ialah point blank. Memang permainan ini terlihat seru, tapi jika
memainkan permainan online terus dampaknya terhadap kehidupan sosial mereka
kurang mengenal dan cenderung antipati.
Selain permainan tradisional yang mulai
hilang, lagu anak-anak pun lenyap dimakan waktu. Dulu, waktu saya masih
anak-anak lagu “di obok-obok”, “aku cinta rupiah”, dan masih banyak lagu
anak-anak lainnya. Tapi sekarang semuanya berubah, lagu anak-anak sekarang
rata-rata semuanya berlirikan cinta yang seharusnya itu untuk orang-orang
dewasa.
Ada tiga komponen yang harus disinergikan,
yaitu Pemerintah, Guru dan Orang Tua. Untuk yang pertama, Pemerintah memang telah membuat
program untuk kemajuan bangsa terutama dalam hal pendidikan. Salah satu
contohnya yaitu dengan membuat taman buku. Program ini di adopsi dari negara
maju yaitu Jepang. Kurang lebih ada 500 taman buku yang dibuat pemerintah di
Indonesia. Tapi semua ini tiada guna jika tak ada “Budaya Baca” yang diterapkan oleh Pemerintah.
Yang Kedua, guru sangat berperan penting
dalam pendidikan. Jelas yang diajarkan guru disekolah semuanya demi kebaikan.
Misalkan siswa diajari untuk tidak bertengkar, tidak mengeluarkan kata-kata
kasar dan yang lainnya. Ini juga tiada guna jika saat anak berada dirumah yang
ia lihat berbanding terbalik dengan yang diajarkan sekolah. Seperti orang
tuanya bertengkar, saudaranya mengeluarkan kata-kata kasar. Hasil pendidikan
disekolah nol besar untuk karakter anak-anak.
Kemudian yang terakhir orang tua, ini yang
sangat penting. Kewajiban orang tua ialah memberikan pendidikan kepada anaknya.
Selain itu, orang tua juga harus memberi kasih sayang dan member perhatian
kepada anaknya. Tapi zaman sekarang sudah sulit menemukan orang tua seperti
ini. Karena mereka lebih sibuk bekerja untuk menghasilkan uang. Yang dilakukan
memang benar, tapi tetap ia harus member perhatian khusus terhadap anak-anak
mereka. Memang, orang tua telah menyekolahkan anaknya yang dibiayai orang tua.
Dan orang tua selalu berkata “sekolah
yang rajin nak dan nilaimu harus bagus”. Ini berbahaya untuk anak-anak,
karena mereka akan melakukan cara apapun agar nilainya tinggi dan orang tua
menerima hasil ujian dan rapor tinggi tanpa tahu prosesnya. Ditambah lagi waktu
orang tua interaksi bersama anaknya itu sangat minim. Pagi orang tua bekerja
hingga sore, begitupun dengan anak, pagi sampai siag sekolah dan sorenya
bermain atau tidur siang. Ketika malam tiba orang tua istirahat dan anak
dikamar. Bisa dibayangkan interaksi pertemuan anak dengan orang tua dirumah
hanya sebatas meja makan. Budaya waktu mau berangkat sekolah dengan mencium
tangan orang tua pun sirna. Sudah sangat jarang sekali hal ini terlihat.
Untuk semua permasalahan ini, mulai dari
penggunaan handphone, televisi, dan yang lainnya bisa kita perbaiki asalkan
ketiga aspek ini bekerja dengan baik. Seperti handphone canggih yang telah
dipakai oleh anak-anak, sebaiknya di seumuran mereka berikan alat komunikasi
standar yang fungsinya hanya untuk menelepon dan sms. Orang tua sekarang
kebanyakan menuruti keinginan anaknya, ingin ini ingin itu, tanpa memikirkan
dampaknya. Ditambah lagi status sosial anak dilihat orang lain tampak keren dan
kaya dengan umur mereka yang belum menginjak 17 tahun ke atas. Sebaiknya juga
handphone milik anak orang tua yang menyimpan, agar waktunya tidak dihabiskan
karena memainkan handphone saja. Berikanlah waktu khusus anak-anak untuk
bermain handphone begitupun dengan menonton televisi. Karena jika terus-terusan
menonton ditambah saat waktunya jam belajar bagi anak-anak ini berbahaya.
Karena ia takkan ada waktu untuk belajar, selesai menonton ia pasti tidur.
Orang tua berperan penting akan hal ini.
Seandainya pemerintah mempunyai kebijakan jam
belajar disetiap daerah, misalkan televisi dan internet off mulai pukul 17.00 –
20.00 wib. Bisa dibayangkan bagaimana dampaknya, ini akan sangat bermanfaat dan
dengan begitu semua orang akan fokus pada kegiatan rumah, seperti berkumpul
keluarga, belajar dan melakukan hal positif lainnya. Tidak seperti sekarang,
banyak keluarga yang menonton sinetron berjama’ah.
Pemerintah juga harus menerapkan system “Budaya Baca”, tidak cukup hanya dengan
membuat “Taman Buku” . Jika hal ini dilakukan, mungkin masyarakat terutama
anak-anak akan melakukannya dan hal ini baik untuk kemajuan bangsa.
Hal lain yang dibutuhkan untuk bangsa ini,
terutama orang tua ialah “Pendidikan Khusus Untuk Orang Tua” , minimal 1 minggu
sekali. Agar para Orang Tua anak-anak tahu bagaimana seharusnya merawat dan
membesarkan anak-anak mereka hingga dewasa dan tanggung jawab mereka sebagai
Orang Tua telah lepas. Pemerintah membuatkan sekolah khusus untuk para Orang
Tua.
Rasulullah SAW bersabda: “Tuntutlah ilmu mulai dari buaian hingga liang lahat” (HR. Bukhori)
. Dari hadist ini bisa kita simpulkan, dalam hal menuntut ilmu tidak selesai
dengan S1, S2, S3 sampai Professor. Jadi, ketika sudah punya anak pun tetap
harus menuntu ilmu apalagi untuk kebaikan anak-anak dan kemajuan generasi masa
depan.
Tidak dapat disangkal bahwa anak-anak layak
dikatakan sebagai generasi masa depan, karena ditangan merekalah maju mundurnya
suatu bangsa. Dan melihat keadaan sekarang berbanding terbalik dengan yang
diharapkan. Harapan yang tinggi kepada generasi sekarang hanya sekedar isapan
jempol belaka. Tapi semuanya masih dapat diperbaiki jika semua aspek ini bisa bersinergi. Harapan untuk Indonesia
lebih baik dapat dicapai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar