| Artikel Islami | ||
| 29 September 2008 - 06:28 | ||
| Ketika Aktivis Harus Jatuh Cinta | ||
| Oleh : Alifa El-Khansa | ||
|
Ketika Harus Jatuh Cinta, Catatan Kecil untuk Para Aktivis Dakwah Sejati
(Part 1: Fenomena) Dakwah bagaikan cahaya yang terpantul dari kedalaman senyawa dalam dada. Cahayanya terpantul karena banyaknya kaca hati yang terserak, menyertai segenap duka yang terpupuk atas nama surga. Semakin banyak kaca hati yang terserak mampu melunturkan waktu yang kian menipis di kisi-kisi senja. Berharap cepat kembali demi sebuah cinta.
Bagi seorang aktivis, dakwah merupakan
sebuah jalan panjang menuju surga-Nya yang penuh onak dan duri. Tidak
akan disebut berdakwah ketika seorang aktivis tidak menemui cobaan
dalam berdakwah. Karena memang cobaan adalah bagian dari dakwah itu
sendiri dan Allah akan selalu menguji kesungguhan hati orang-orang yang
telah berani mengatakan bahwa mereka beriman.
Banyak
aktivis yang telah berhasil melewati berbagai fase cobaan dalam
rentang dakwahnya yang panjang. Aktivis ini telah membuktikan dirinya
di hadapan kaum muslimin dan Rabb bahwa dengan keteguhan hati dan
kesabarannya telah berhasil melakukan terobosan-terobosan dakwah yang
penuh strategi dalam melawan kebatilan. Aktivis ini menjadi tumpuan
dakwah di tempatnya berada karena dapat dipercaya dan amanah dalam
melaksanakan berbagai agenda. Ia layak digelari mujahidullah peradaban
karena mampu bertahan dengan cobaan dakwah yang menyangkut strategi
dalam melawan kebatilan.
Tetapi seringkali
aktivis itu tidak menyadari bahaya cobaan yang sedang menerpa hatinya.
Hatinya yang rapuh sering tergelincir dengan cinta terhadap lawan jenis
yang tumbuh dari kebersamaan mereka dalam dakwah yang panjang dan
penuh cobaan. Ta'awun yang mereka lakukan seringkali menimbulkan
benih-benih terpendam. Lalu diam-diam mereka pupuk di dalam hati hingga
akhirnya bunga bermekaran di mana-mana. Sayangnya, bunga itu bukanlah
bunga mawar yang indah... Bunga itu tumbuh bukan dari keimanan,
melainkan dari pandangan mata dan nafsu yang pelan-pelan merusak hati
lalu menggerogoti jiwa yang lemah. Jiwa itu kini menjadi rapuh, merusak
seluruh niat yang tersampir di dada lalu akhirnya merobohkan
sendi-sendi dakwah.
Walaupun begitu, sulit
sekali untuk melepaskan ‘dia' yang telah bersemayam di dada, jauh
melebihi Dia yang selama ini selalu bersama kita dengan penuh cinta.
Bagaimana bisa melupakannya begitu saja? Ketika seorang aktivis dakwah
telah terlalu lama menancapkan panah-panah pandangan mata ke arah ‘dia'
yang tampak indah dengan segala gerik dakwahnya, sedangkan Dia-Rabb
yang selalu ada untuk kita tak pernah sekalipun menampakkan wujud-Nya,
tentu saja sosok'nya' jadi lebih bermakna. Kita takut tegas padanya
karena sebelumnya telah terbayang wajahnya yang memelas. Kita jadi
takut berbuat salah padanya karena telah terbayang wajahnya yang merah
padam. Sekarang di dalam pikiran hanya ada wajahnya dimana-mana! Inilah
bahaya kalau para aktivis mengurangi porsi ghadul bashar pada lawan jenis...
Lalu setelah berusaha ghadul bashar
dan meluruskan niat lagi, datang cobaan dari lingkungan sesama aktivis
dakwah. Yang anehnya lagi, lingkungan aktivis kadang malah
mendukungnya. Mereka ucapkan kata-kata penggoda untuk membuatnya merasa
bahwa sosok ‘itu' juga pantas disandingkan dengannya. Hati yang telah
kokoh dibentengi keimanan kepada Allah itu akhirnya kandas juga dimakan
api asmara yang datangnya dari sesama para aktivis dakwah. Terkadang
lingkungan aktivis dakwah sekalipun juga dapat menjerumuskan ketika
orang-orang yang ada di lingkungan itu sendiri kurang bisa menjaga hati
dan pandangannya. Benar-benar cobaan yang dahsyat! Harapan dan
kenyataan untuk menggapai surga-Nya telah terkotori oleh cobaan cinta
dari lawan jenis yang tidak mampu dimaknai sesuai porsinya. Kini, yang
tersisa hanyalah puing-puing dakwah yang terserak, roboh terkena badai
cinta.
Ketika Harus Jatuh Cinta, Catatan Kecil untuk Para Aktivis Dakwah Sejati
(Part 2:Antara Kejujuran & Ketulusan) Cinta... tiada satu pun di dunia ini yang menafikan karena cinta sendiri merupakan senyawa yang menjadi fitrah manusia sejak dia ada. Sekarang, permasalahan yang muncul adalah apakah kita bisa menumbuhkan benih cinta yang ada di dalam hati sesuai dengan porsinya? Apakah kita mampu mensinkronisasikan cinta dengan dakwah yang telah menjadi darah daging kita sendiri? Ataukah kita memisahkan cinta dengan dakwah lalu jatuh terluka karena telah mencabik-cabiknya dari nyawa? Kita letakkan harapan pada hamba, yang bahkan masih mengeja makna cinta. Sedangkan cinta hanya mau berharap pada Ilahi Rabbi-Tuhan yang telah menjadikannya ada.
Andaikan kita menjadi seorang
aktivis yang telah jatuh cinta pada seorang pengemban dakwah lainnya,
apakah kita adalah orang yang lantas tergelincir dari jalan dakwah
ataukah kita mampu bertahan lalu menjaga cinta kita sebagai rahasia
saja? Atau jangan-jangan kita biarkan cinta dan dakwah berjalan
beriringan. Kita berjuang untuk Allah sekaligus untuk mendapatkan cinta
dari aktivis dakwah lainnya juga. Padahal kita mengetahui hanya amal
yang niat tulus karena Allah saja-lah yang diterima oleh Allah.
Wahai
para pengemban risalah Allah, sadarlah... Hanya kejujuran dan
ketulusan sajalah yang mampu mengalahkan semua niat yang telah ternoda
di dalam dada. Ketika niat telah terkotori dan cinta telah berharap
pada selain Allah, jujurlah pada Allah. Utarakan kepada Allah dengan
sejujurnya keinginanmu yang sebenarnya. Jika ingin bersatu dengannya,
mintalah... Pun ketika hati ini ingin diluruskan oleh Allah, dihilangkan
bayang-bayang dirinya dari pikiran, maka mintalah... Jujurlah pada
Allah... Kenapa kita harus menutupi hal yang tampak di hadapan-Nya?
Tulus
dan jujurlah hanya kepada Allah-Rabb yang Maha Mengetahui segala isi
hati. Karena hanya Allah saja yang mampu jujur dan tulus kepada kita.
Bukan pendamping dakwah yang kita harapkan atau bahkan lingkungan yang
mungkin juga sedang futur.
Lalu ketika Allah
telah membalas kejujuran itu, maka saatnya untuk tulus kepada Allah.
Tulus atas apapun keputusan Allah yang diberikannya kepada kita.
Seandainya Allah mengabulkan doa-doa kita, anggaplah ini sebagai kado
kecil dari-Nya karena kita telah jujur pada-Nya. Jika Allah mengizinkan
kita bersatu dengan kekasih hati, maka tuluskan lagi niat kita hanya
karena Allah. Maka insyaAllah perjalanan dakwah ini dengan kekasih hati
akan lebih indah dan diridhoi oleh-Nya. Sedangkan bila Allah justru
memisahkan kita dengan kekasih hati, maka kita juga harus berusaha
tulus menerima segala keputusan Allah. Ini adalah keputusan terbaik
dari Allah dan tiada yang bisa menandinginya. Yakinlah dengan keputusan
Allah ini, maka insyaAllah penggantinya akan lebih baik dari apa yang
selama ini kita bayangkan.
InsyaAllah dengan
kejujuran dan ketulusan cinta ini maka aktivis dapat melangkah di jalan
dakwah dengan keyakinan teguh dan kesabaran. Akivis menjadi insan yang
istiqomah melangkah di jalan dakwah. Aktivis menjadi mujahid yang
berhasil dari segi strategi dan segi kesucian cinta. Semoga kita semua
menjadi aktivis yang mampu jujur dan tulus kepada Allah atas fitrah
cinta yang telah menjadi senyawa dalam jiwa kita. Amin...
| ||
Hari-Hari Penuh Rintangan, Jalan Hidup Penuh Tantangan, Tidak Ada Kehidupan Yang Ringan, Setiap Waktu Adalah Perjuangan
Jumat, 13 April 2012
Ketika Aktivis Harus Jatuh Cinta
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar